Sabtu, 26 April 2014

filtrasi



Filtrasi
TUJUAN
Tujuan Instruksional Umum
Mengetahui mekanisme proses penyaringan
Mengetahui cara mengoperasikan alat penyaringan
Menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan penyaringan
Tujuan Instruksioanal Khusus
Dapat merakit dan membongkar alat percobaan
Dapat melaksanakan operasi filtrasi baik pada tekanan tetap maupun pada kecepatan tetap
Dapat melaksanakan operasi pencucian setelah penggunaan filtrasi press
Dapat menentukan waktu filtrasi optimum
Dapat menghitung densitas dan viskositas air hasil filtrasi dari tiap volume
Dapat menghitung berat cake hasil filtrasi
Dapat membuat grafikk hubungan antara waktu dengan densitas dan viskositas serta berat cake pada masing-masing percobaan
RUANG LINGKUP
Praktikum yang kami lakukanialah proses filtrasidenganmenggunakan filter press dengankasa filter sebagai media penyaringan. Larutan yang digunakanyaitularutan CaCO3 4,56 % dalam 20 liter air.
DASAR TEORI
3.1 Pengertian Filtrasi
Filtrasi adalah pembersihan partikel padat dari suatu fluida dengan melewatkannya pada medium penyaringan, atau septum, yang di atasnya padatan akan terendapkan. Range filtrasi pada industri mulai dari penyaringan sederhana hingga pemisahan yang kompleks. Fluida yang difiltrasi dapat berupa cairan atau gas; aliran yang lolos dari saringan mungkin saja cairan, padatan, atau keduanya. Suatu saat justru limbah padatnyalah yang harus dipisahkan dari limbah cair sebelum dibuang
Proses pengoperasiannya sebagai berikut :
Pada permulaan filtrasi pada penyaring kue beberapa partikel padat memasuki medium pori dan ditahan, tetapi dengan segera mulai berkumpul di permukaan septum.
Setelah periode awal ini padatan mulai terfiltrasi; padatan tersebut mulai menebal di permukaan dan harus dibersihkan secara periodik.Kecuali dilengkapi kantong penyaring untuk pembersih gas, penyaring umumnya hanya digunakan untuk pemisahan padat-cair.
Penyaring dapat dioperasikan dengan tekanan di atas atmosfer pada aliran atas medium penyaring atau tekanan vakum pada aliran bawah.
3.2 Fungsi Filtrasi
Filtrasi digunakan sebagai berikut:
Untuk membersihkan air dan sampah pada pengolahan air
Menjernihkan preparat kimia di laboratorium
Menghilangkan pengotor pada air suntik injeksi
Membersihkan sirup dari kotoran yang ada pada gula
(
http://nisahalimahI.file.wordpress.com/2009/06/jenis-pemisahan-campuran.pdf)
3.3 Macam-Macam Filtrasi
Menurut prinsip kerjanya filtrasi dapat dibedakan atas beberapa cara, yaitu:
a. Gravity Filtration : Filtrasi yang cairannya mengalir karena gaya berat.
b. Pressure Filtration:Filtrasi yang dilakukan dengan menggunakan tekanan.
c. Vacum Filtration : Filtrasi dengan cairan yang mengalir karena prinsip hampa udara (penghisapan).
(
http://bamboe-lokal.blogspot.com/2009/11/Filtrasi28.html)
3.4 Faktor-Faktor yang MempengaruhiHasilFiltrasi
Faktor yang mempengaruhiefisiensipenyaringanada 4 (empat) faktordanmenentukanhasilpenyaringandalambentukkualitas effluent sertamasaoperasisaringanyaitu :
1. Ketebalanlapisan media filter
Semakinteballapisan media filter, makaluaspermukaanpenahanpartikel-partikelsemakinbesardanjarak yang ditempuholeh air semakinpanjang.
2. Suhu Air
PengaruhSuhuTerhadapKekentalan
PengaruhSuhuTerhadapAktifitasBiologi
PengaruhSuhuTerhadapReaksi Kimia
3. KecepatanFiltrasi
Kecepatanaliranakanmempengaruhi proses penahananmekanisterhadapbahan-bahantersuspensi.
4. Kualitas Air
Semakin rendah kualitas air yang akan difilter, maka akan semakin memerlukan pengolahan yang sempurna atau kompleks.
(
http://rac.uii.ac.id/server/document/public/2008080103041pdf%20TA.pdf)
3.5 Filter Press
Suatu mesin press bersaringan berisi satu set plat yang didesain untuk menyediakan serangkaian ruang atau kompartemen yang di dalamnya padatan dikumpulkan. Plat-plat tersebut dilingkupi media penyaring seperti kanvas. Lumpur dapat mencapai tiap-tiap kompartemen dengan tekanan tertentu, cairan melalui kanvas atau keluar melalui pipa pembuangan, meninggalkan padatan cake basah dibelakangnya. Plat dari suatu mesin press bersaringan dapat berbentuk persegi/lingkaran, horizontal, atau vertikal.
(
http://tutorial-kuliah.blogspot.com/2009/06/tugas-kuliah-teori-tentang-filterpress.html)
3.6 Cake
Cake merupakan padatan yang terakumulasi atau tertinggal dan menempel pada cloth. Setelah beberapa lama maka ruang antara plate akan tertumpuk oleh slurry dan lama kelamaan umpan akan berhenti mengalir. Jika hal ini terjadi maka cloth harus segera dicuci. Pencucian ini dilakukan dengan menyalurkan air bersih ke dalam plate dan keluar melalui frame. Hal ini merupakan kebaikan dari proses filtrasi. Berdasarkan kompresibilitasnya cake (slurry yang menempel padacloth) dibagi menjadi dua, yakni :
1. Compressible cake
Cake akan mengalami perubahan struktur apabila mengalami tekanan sehingga ruang kosong dalam cake semakin kecil akibatnya proses penahan semakin besar dan proses filtrasi semakin sulit.
2. Incompressible cake
Cake yang tidak mengalami perubahan jika terjadi perubahan tekanan. Pada kenyataanya kelompok ini hampir tidak ada. Tetapi tekanan yang digunakan kecil maka cake dapat dianggap incompressible cake.
3.7 Aplikasi Proses Filtrasi di Industri
Aplikasi dalam industri, proses filtrasi terdapat pada alat rotary vacuum filter.
Industri Perminyakan
RVF digunakan untuk menghasilkan heavy petroleum wax yang ditemukan pada umpan asal lubicrating oil.
Pengolahan Air Limbah
RVF digunakan untuk filtarsi bahan buangan yang sudah tercampur.
Makanan dan Minuman
RVF didesain dengan spesifikasi khusus untuk menjamin kemurnian dan tidak terkontaminasinya suatu produk.
Kimia dan Farmasi
Untuk aplikasi ini, RVf didesain khusus agar memenuhi tingkat kemurnian yang sudah distandarkan sehingga resiko kontaminasinya kecil.
Pengolahan logam mulia
Pembuatan kertas
Industri batu bara
Industri kimia
Industri pupuk
10.Industri mesiu
(
http://bagasvanirawan.wordpress.com/2010/11/4/filtrasi)
3.8 Densitas
Massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total volumenya. Satuan SI massa jenis adalah kilogram per meter kubik (kg•m-3).Rumusmassajenis:
Keterangan:
ρ = massa jenis (kg/m3)
m= massa (kg)
V = volume (m3)
(
http://id.wikipedia.org/wiki/massa-jenis)
3.9 Viskositas
Viskositas atau kekentalan adalah salah satu cairan yang menentukan besarnya perlawanaan terhadap gaya geser. Viskositas terjadi terutama karena adanya interaksi antara molekul-molekul cairan.
Rumus:
µ=(dx.tx)/(do.to) μo
keterangan:
µ = viskositas
µo = viskositas air
dx/do = perbandingan density
tx/to = perbandingan waktu
viskositas zat cair cenderung menurun seiring bertambah kenaikan temperatur, hal ini disebabkan gaya-gaya kohesi pada zat cair dipanaskan akan mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya temperature pada zat cair yang menyebabkan turunnya viskositas dari zat cair tersebut. Semakin besar konsentrasi suatu bahan maka viskositas makin besar. Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas, yaitu: temperatur, tekanan, kohesi dan laju perpindahan momentum molekuler. (
http://id.wikipedia.org/wiki/viskositas)
3.10 Sifat Reagen
Kalsium Karbonat (CaCO3)
Sifat fisis: RM : CaCO3
BM : 100,09 gr/mol
Berbentuk serbuk putih
Density : 2,8 gr/cm3
Melting point : 8,25oC
Sifat kimia: Sedikit larut dalam air
(
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-non Degree-10560.ChapterI.pdf)
3.10.2 Aquadest
Sifat fisika : Rumus molekul: H2O
Berat molekul: 18 gr/mol
Densitas: 1 gr/ml
Titik didih: 1000C
Titik lebur 00C
Sifat kimia : Merupakan pelarut yang baik
Ph larutan netral yaitu 7
Bukan merupakan zat pengoksida kuat
Merupakan bahan reduktor
Dapat mengalami reaksi oksidasi jika direaksikan dengan
logam alkali tanah.
(http//dedyanwar-kimiaanalisa.blogspot.com/2009/11/)
PERALATAN DAN BAHAN
Peralatan :
Alat Utama : – Satu set alat filter press
Alat Pendukung :
- beaker glass - kertas saring
– piknometer 25 ml - plastik
– cawan porselin - stopwatch
– viskosimeter ostwold - oven
– bola karet - ember
– timbangan digital
– kertas saring
Bahan yang digunakan
Aquadest 60 liter
CaCO3 sebanyak 4,56% dilarutkan dalam 20 liter aquadest
VARIABEL
Variabel tetap :
Aquadest
Kadar CaCO3
Variabel berubah :
Waktu (20 menit, 30 menit, dan 40 menit)
LANGKAH KERJA
Menimbang CaCO3 91.2 gr dan mengukur air 20 liter
Memasukkan air dan CaCO3 ke dalam tangki slurry
Aduk hingga CaCO3 tercampur dengan air
Cek filter press dengan mengguatkan bidang filter kemudian kencangkan press, serta cek kran dan valve
Nyalakan pompa dan buka kran yang menuju alat filtasi dibuka penuh,sedangkan kran untuk air balik dibuka 1/2
ambil sampel pada masing-masing selang pada waktu 20 menit
kenudian matikan pompa buka bidang filternya dan ambil cakenya setelah itu timbang berat basahnya
Oven cake hingga kering ,kemudian timbang bera keringnya
Untuk sampel airnya dihitung densitas dan viskositasnya
Ulangi percobaan tersebut ulangi percobaan tersebut untuk waktu 30 menit dan 40 menit
PERHITUNGAN
Massa CaCO3
% CaCO3= (gr CaCO3)/(Mr CaCO3)×1000/(V air)
4,56/100=(gr CaCO3)/(Mr CaCO3)×1000/20000
gr CaCO3=91,2 gr
7.2 Densitas
ρ= (berat pikno isi-berat pikno kosong)/(V pikno)
Percobaan I (20 menit)
1.ρ= (50,74-25,31)gr/(25 ml)=1,0172 gr/ml
2.ρ= (50,73-25,31)gr/(25 ml)=1,0168 gr/ml
3.ρ= (50,71-25,31)gr/(25 ml)=1,0160 gr/ml
4.ρ= (50,70-25,31)gr/(25 ml)=1,0156 gr/ml
5.ρ= (50,70-25,31)gr/(25 ml)=1,0156 gr/ml
6.ρ= (50,70-25,31)gr/(25 ml)=1,0156 gr/ml
Percobaan II (30 menit)
1.ρ= (50,72-25,31)gr/(25 ml)=1,0164 gr/ml
2.ρ= (50,72-25,31)gr/(25 ml)=1,0160 gr/ml
3.ρ= (50,71-25,31)gr/(25 ml)=1,0160 gr/ml
4.ρ= (50,71-25,31)gr/(25 ml)=1,0160 gr/ml
5.ρ= (50,70-25,31)gr/(25 ml)=1,0156 gr/ml
6.ρ= (50,70-25,31)gr/(25 ml)=1,0156 gr/ml
Percobaan III (40menit)
1.ρ= (50,72-25,31)gr/(25 ml)=1,0164 gr/ml
2.ρ= (50,71-25,31)gr/(25 ml)=1,0160 gr/ml
3.ρ= (50,71-25,31)gr/(25 ml)=1,0160 gr/ml
4.ρ= (50,70-25,31)gr/(25 ml)=1,0156 gr/ml
5.ρ= (50,70-25,31)gr/(25 ml)=1,0156 gr/ml
6.ρ= (50,69-25,31)gr/(25 ml)=1,0156 gr/ml
7.2 Viskositas
µ=(dx.tx)/(do.to) μo
Percobaan I (20 menit)
1.µ= (1,0172×2,99)/(1×2,7)×0,99=1,115 Cp
2.µ= (1,0168×2,86)/(1×2,7)×0,99=1,066 Cp
3.µ= (1,0160×2,82)/(1×2,7)×0,99=1,051 Cp
4.µ= (1,0156×2,76)/(1×2,7)×0,99=1,028 Cp
5.µ= (1,0156×2,74)/(1×2,7)×0,99=1,020 Cp
6.µ= (1,0156×2,70)/(1×2,7)×0,99=1,005 Cp
Percobaan II (30 menit)
1.µ= (1,0164×2,96)/(1×2,7)×0,99=1,103 Cp
2.µ= (1,0160×2,96)/(1×2,7)×0,99=1,058 Cp
3.µ= (1,0160×2,81)/(1×2,7)×0,99=1,047 Cp
4.µ= (1,0160×2,73)/(1×2,7)×0,99=1,017 Cp
5.µ= (1,0156×2,71)/(1×2,7)×0,99=1,009 Cp
6.µ= (1,0156×2,68)/(1×2,7)×0,99=0,998 Cp
Percobaan III (40menit)
1.µ= (1,0164×2,95)/(1×2,7)×0,99=1,099 Cp
2.µ= (1,0160×2,81)/(1×2,7)×0,99=1,047 Cp
3.µ= (1,0160×2,77)/(1×2,7)×0,99=1,032 Cp
4.µ= (1,0156×2,73)/(1×2,7)×0,99=1,032 Cp
5.µ= (1,0156×2,66)/(1×2,7)×0,99=0,991 Cp
6.µ= (1,0156×2,61)/(1×2,7)×0,99=0,972 Cp
Berat Cake
Berat cake basah=(berat kertas saring+cake basah)-(berat kertas saring)
Berat cake kering=(berat kertas saring+cake kering)-(berat kertas saring)
Percobaan I (20menit)
Cake Basah
Cake basah = (16,66 – 0,67)gr = 15,99 gr
Cake basah = (16,81 – 0,69)gr = 15,62 gr
Cake basah = (16,16 – 0,64)gr = 15,52 gr
Cake basah = (28,27 – 0,65)gr = 27,62 gr
Cake basah = (16,53 – 0,65)gr = 15,88 gr
Cake basah = (13,01 – 0,64)gr = 12,37 gr
Cake Kering
Cake kering = (12,82 – 0,67)gr = 12,15 gr
Cake kering = (12,25 – 0,69)gr = 11,56 gr
Cake kering = (12,17 – 0,64)gr = 11,53 gr
Cake kering = (24,25 – 0,65)gr = 23,60 gr
Cake kering = (13,53 – 0,65)gr = 12,87 gr
Cake kering = (10,72 – 0,64)gr = 10,08 gr
Percobaan II (30 menit)
Cake Basah
Cake basah = (23,88 – 0,64)gr = 24,24 gr
Cake basah = (24,74 – 0,67)gr = 24,07 gr
Cake basah = (18,01 – 0,65)gr = 17,36 gr
Cake basah = (17,64 – 0,66)gr = 16,98 gr
Cake basah = (19,85 – 0,71)gr = 19,14 gr
Cake basah = (7,82 – 0,70)gr = 7,12 gr
Cake Kering
Cake kering = (17,43 – 0,64)gr = 16,79 gr
Cake kering = (24,74 – 0,67)gr = 17,44 gr
Cake kering = (13,45 – 0,65)gr = 12,8 gr
Cake kering = (12,80 – 0,66)gr = 12,14 gr
Cake kering = (14,61 – 0,65)gr = 13,9 gr
Cake kering = (5,94 – 0,64)gr = 5,24 gr
Percobaan III (40 menit)
Cake Basah
Cake basah = (18,66 – 0,72)gr = 17,94 gr
Cake basah = (16,61 – 0,72)gr = 15,89 gr
Cake basah = (22,98 – 0,70)gr = 22,28 gr
Cake basah = (22,10 – 0,72)gr = 21,38 gr
Cake basah = (13,35 – 0,74)gr = 12,61 gr
Cake basah = (13,31 – 0,70)gr = 12,59 gr
Cake Kering
Cake kering = (14,31 – 0,72)gr = 13,41 gr
Cake kering = (12,47 – 0,72)gr = 11,75 gr
Cake kering = (17,52 – 0,70)gr = 16,82 gr
Cake kering = (16,06 – 0,72)gr = 15,32 gr
Cake kering = (10,10 – 0,74)gr = 9,36 gr
Cake kering = (10,04 – 0,72)gr = 9,32 gr

Aplikasi Prinsip Kesetimbangan Kimia dalam Industri


Aplikasi Prinsip Kesetimbangan Kimia dalam Industri

Banyak proses industri zat kimia yang didasarkan pada reaksi kesetimbangan. Agar efesien, kondisi reaksi haruslah diusahakan sedemikian sehingga menggeser kesetimbangan ke arah produk dan meminimalkan reaksi balik. Misalnya:
1. Pembuatan Amonia menurut proses Haber-Bosch
Nitrogen terdapat melimpah di udara, yaitu sekitar 78% volume. Walaupun demikian, senyawa nitrogen tidak terdapat banyak di alam. Satu-satunya sumber alam yang penting ialah NaNO3 yang disebut Sendawa Chili. Sementara itu, kebutuhan senyawa nitrogen semakin banyak, misalnya untuk industri pupuk, dan bahan peledak. Oleh karena itu, proses sintesis senyawa nitrogen, fiksasi nitrogen buatan, merupakan proses industri yang sangat penting. Metode yang utama adalah mereaksikan nitrogen dengan hidrogen membentuk amonia. Selanjutnya amonia dapat diubah menjadi senyawa nitrogen lain seperti asam nitrat dan garam nitrat.
Dasar teori pembuatan amonia dari nitrogen dan hidrogen ditemukan oleh Fritz Haber (1908), seorang ahli kimia dari Jerman. Sedangkan proses industri pembuatan amonia untuk produksi secara besar-besaran ditemukan oleh Carl Bosch, seorang insinyur kimia
juga dari Jerman.
43
Berdasarkan prinsip kesetimbangan kondisi yang menguntungkan untuk ketuntasan reaksi ke kanan (pembentukan NH3) adalah suhu rendah dan tekanan tinggi. Akan tetapi, reaksi
tersebut berlangsung sangat lambat pada suhu rendah, bahkan pada suhu 500oC sekalipun. Dipihak lain, karena reaksi ke kanan eksoterm, penambahan suhu akan mengurangi rendemen.
44
Dewasa ini, seiring dengan kemajuan teknologi, digunakan tekanan yang jauh lebih besar, bahkan mencapai 700 atm. Untuk mengurangi reaksi balik, maka amonia yang terbentuk segera dipisahkan.
Mula-mula campuran gas nitrogen dan hidrogen dikompresi (dimampatkan) hingga mencapai tekanan yang diinginkan. Kemudian campuran gas dipanaskan dalam suatu ruangan yang bersama katalisator sehingga terbentuk amonia.
Diagram alur dari proses Haber-bosch untuk sintesis amonia
diberikan pada Gambar 10.
45
2. Pembuatan Asam Sulfat Menurut Proses Kontak
Industri lainnya yang berdasarkan reaksi kesetimbangan yaitu pembuatan asam sulfat yang dikenal dengan proses kontak. Reaksi yang terjadi dapat diringkas sebagai berikut ;
46
Tahap penting dalam proses ini adalah reaksi (2). Reaksi ini merupakan reaksi kesetimbangan dan eksoterm. Sama seperti pada sintesis amonia, reaksi ini hanya berlangsung baik pada suhu tinggi. Akan tetapi pada suhu tinggi justru kesetimbangan bergeser ke kiri.
47
Dalam industri kimia, jika campuran reaksi kesetimbangan mencapai kesetimbangan maka produk reaksi tidak bertambah lagi. Akan tetapi produk reaksinya diambil atau disisihkan, maka akan menghasilkan lagi produk reaksi.
48
Amonia yang terbentuk dipisahkan dari campuran kesetimbangan dengan cara pencarian dari gas nitrogen di daur ulang ke wadah reaksi untuk menghasilkan produk reaksi.
Banyak proses alamiah dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan perubahan konsentrasi pada sistem kesetimbangan. pH darah dan jaringan badan kira-kira 7,4 . Harga ini diatur dalam darah berada dalam kesetimbangan dengan ion hidrogen karbonat dan ion hidrogen.
49
Jika konsentrasi ion hidrogen bertambah, ion-ion ini bereaksi dengan ion hidrogen karbonat. Jika konsentrasi ion hidrogen terlampau rendah, asam karbonat bereaksi menghasilkan hidrogen. Oksigen diangkut dari paru-paru ke sel badan oleh haemoglobin dalam sel darah merah. Dalam paru-paru, konsentrasi oksigen cukup tinggi dan haemoglobin bereaksi dengan oksigen membentuk oksihemoglobin. Reaksi ini dapat ditulis,
50
Dalam jaringan tubuh, konsentrasi oksigen rendah, sehingga reaksi sebaliknya yang terjadi, yaitu menghasilkan oksigen untuk digunakan dalam sel tubuh.
Ketika oksigen diangkut dari paru-paru ke jaringan tubuh, karbon dioksida yang dihasilkan oleh respirasi sel angkut dari jaringan tubuh ke paru-paru.
Dalam jaringan tubuh karbon dioksida yang konsentrasinya relatif tinggi melarut dalam darah bereaksi dengan air membentuk asam karbonat.
51
Dalam paru-paru di mana konsentrasi karbon dioksida relatif rendah, reaksi sebaliknya yang terjadi dan karbon dikeluarkan dari darah ke udara.
52
Jika air tanah mengalir melalui daerah berkapur, maka batu kapur melarut. Jika air berjumpa dengan udara yang mengandung sedikit karbondioksida maka karbon dioksida akan dilepaskan dari larutan ke udara, sehingga kalsium karbonat mengendap.
 

Sabtu, 28 Desember 2013

Transisi Gelas



Pengertian Transisi Gelas
Transisi gelas adalah suatu kisaran temperatur yang bersifat sempit, dimana di bawah temperatur tersebut polimer bersifat glassy, dan di atas temperatur tersebut polimer bersifat rubbery. Temperatur transisi gelas merupakan salah satu sifat polimer. Apakah polimer bersifat glassy atau rubbery sangat tergantung pada temperatur apakah di atas atau di bawah temperatur transisi gelas. Dengan kata lain, masing-masing polimer akan mempunyai temperatur transisi gelas yang karakteristik. 
Faktor yang Mempengaruhi Transisi Gelas
Volume bebas polimer
Volumer bebas (free volume) polimer adalah volume dari polimer yang tak terhuni oleh molekul polimer itu sendiri. Dengan kata lain, ada kekosongan dalam volume polimer. Rumus umum volume bebas polimer adalah:
vf = v –vs
dimana 
vf
 = volume bebas polimer
vs
 = spesifik dari polimer 
v = volume molekul polimer.
 

Semakin tinggi vf
 makin banyak ruang bagi molekul untuk bergerak dan makin rendah transisi gelas.
Telah diperkirakan bahwa untuk sebuah polimer vf/v =0,025 pada transisi gelas.
Gaya tarik antar molekul
Makin kuat molekul polimer terikat satu sama lain, makin besar energi termal yang diperlukan untuk menghasilkan gerakan. Karena parameter kelarutan (δ) merupakan ukuran gaya intermolekuler, maka transisi gelas meningkat dengan δ. Sebagai contoh, poliakrilonitril memiliki ikatan sekunder antara rantai yang sangat kuat, sehingga mempunyai transisi gelas yang lebih tinggi dari temperatur degradasi.
Mobilitas internal rantai
Mobilitas internal rantai adalah keleluasaan molekul untuk berotasi di sekitar ikatannya.
Kekakuan rantai
Rantai yang sulit menggulung dan melipat akan mempunyai transisi gelas lebih tinggi. Kekakuan ini biasanya diikuti dengan tingginya Eo, sehingga susah memisahkan dampak gaya tarik antar molekul dan mobilitas internal rantai. Rantai utama dengan ikatan pararel dalam tulang punggung polimer dan ikatan aromatik mengakibatkan rantai kaku dan oleh karena itu temperatur gelas tinggi.
Panjang rantai
Transisi gelas akan bervariasi sesuai dengan panjang rantai polimer.